di tepian karang mumus » copyleft 2ØØ4 « timpakul™


profileprofil
My Photo
Name: timpakul
Location: samarinda, kalimantan timur, Indonesia

hidup di sebuah kota kecil di tepian sungai mahakam merupakan hal yang membahagiakan... walau tak lagi banyak pepohonan, rawa dan hutan kota.... saat ini menapaki kehidupan dengan belajar pada alam dan berbagi pada sesama....

articlesartikel
archivearsip
l i n kruang lain
support bydidukung
shoutbox
[ 20.6.08 ]
negeri dalam belanga krisis
hutan tak lagi hijau. sungai tak lagi bening. lautan menghitam. udara kota
penuh berkabut. racun telah pula menebar hingga pada ujung terakhir kota.
nafas sesak. mata meradang. emosi meluapkan amarah. bukan pada siapa, hanya
pada apa.

negeri dalam belanga krisis. minyak bumi. gas alam. batu bara. emas.
nikel. pasir besi. tembaga. perak. dan berlian. berlayar di lautan, entah
menuju mana. lapisan humus hitam kecoklatan terbalur dengan tanah merah
yang mengeras perlahan. air hujan sapu segala, hingga mengantar di muara
lautan.

ikan berpergian dan enggan pulang. orangutan bermain seolah ceria di balik
jeruji besi di pulau kecil di tengah pulau. bekantan pergi berbelanja di
pusat perbelanjaan yang dulunya menjadi tempat berkainnya. rangkong terus
meneriakkan pekik kemerdekaan. tapi tak ada yang mendengarkannya. semua
telah menjadi tuli. bahkan perlahan menjadi bisu. bergerak perlahan, tanpa
lagi mampu melihat api yang menjilat rumah Tuhan.

pepohonan bertumbangan. rotan hanyut dalam mimpi multi pihak. madu hutan
yang tersisa hanya pada sebuah pabrik jamu. pasak bumi tercerabut tak
berakar. buldozer tua, perlahan ratakan tanah. katanya, sesaat lagi
kesejahteraan akan ditanamkan dari sebatang palem yang kabarnya minyaknya
mampu melumasi dunia.

mata air berhenti menangis. kering sudah jiwa. kulit mengeras dan semakin
keriput. tulang belulang berserakan di pekarangan. jerit lambung
bersenandung irama kerakusan. sebuah kotak besi tinggalkan catatan negeri
yang pernah merdeka.

tanah, air, hutan, kehidupan. pada negeri dalam belanga krisis. diaduk dan
dihisap oleh bank dunia dan amerika serikat. dengan tangan-tangan yang
mengkamuflase dalam berbagai baju. yang teronggok pada sebuah lemari.
orangutan, hak asasi manusia, pluralisme, anti-korupsi, konservasi,
bencana. yang segala telah terbutakan, oleh keping emas yang menyilaukan
aura kehidupan.

[080620]
:: pagi hari pada sebuah ruang hijau muda

[ 12.6.08 ]
pesan singkat bagi kawans
kawans,

ketika kemudian kecintaan kepada hutan menghilangkan kesayangan kepada
sesama manusia, ini menjadi sebuah hal yang penting untuk dibongkar ulang
pada isi kepala ini.

kenapa kemudian menjadi semakin banyak kelompok yang mengambil kayu
dihutan yang diklaim sebagai milik perusahaan ataupun milik pemerintah. ada
yang tidak benar dalam sistem ekonomi hari ini, dimana hanya sebagian kecil
kelompok yang terfasilitasi dalam menikmati peredaran kekayaan alam.
konteks ini yang sering alpa dilihat dalam mencermati lingkaran hilangnya
kayu-kayu di hutan.

cukong dan kelompok pemodal, sangat memperoleh perlindungan dari
pemerintah, sebagai pelayan publik, yang pada akhirnya menyingkirkan
kelompok-kelompok manusia dari ruang kehidupannya. sawah yang menyempit,
kebun yang menghilang, pohon buah yang tak berbuah dan terserang hama, air
sumur yang mengering, sungai yang berisikan bahan beracun, yang kesemuanya
menjadikan kelompok manusia, sebagian besar, tak lagi memperoleh
kehidupan.

belum ditambah dengan pendidikan dan kesehatan yang semakin mahal, yang
kondisi ini memicu isi kepala untuk bergerak untuk mengejar materi. juga
ketika proses pembelajaran di sekolah hingga perguruan tinggi hari ini
telah membentuk karakter robot-robot pekerja yang seolah intelektual.

menambah jumlah polhut, mengisikan pistol dengan peluru secanggih apapun,
atau membangun pagar beraliran listrik, tak akan menjadikan luasan hutan di
negeri ini semakin bertambah ataupun bertahan luasannya. ada sebuah nilai
yang hilang dalam pendekatan yang ingin dilakukan. pahamilah apa yang
menjadi sebuah permasalahan pokok dari kelompok manusia di dalam dan
sekitar hutan. juga, yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, "apakah
memang mereka harus dimusnahkan dari muka bumi ini?"

kawans,

sederhanalah dalam berpikir dan melihat sebuah pokok persoalan. mari kita
liat bagaimana penguasaan sekelompok kecil, orang yang hari ini sedang
berenang di sebuah kolam pada sebuah pulau pribadi di udara yang sejuk,
yang mampu menguasai begitu banyak lahan tambang, perkebunan besar, hutan
tanaman industri seluas samudera, hingga hak menguasai penebangan kayu.
mereka adalah "pembunuh" kehidupan, baik terhadap orangutan, gajah,
beruang, hingga seekor semut, dan juga menjadi "pembunuh" bagi kehidupan
manusia di negeri ini.

letakkan dasar berpikir pada sebuah kepentingan komunal, yang harusnya
memperoleh pelayanan publik dan dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik.
bukan semata karena sebuah kepentingan LEMBAGA KEUANGAN INTERNASIONAL
yang membiayai penelitian dan/atau proyek yang sedang dilakukan. LEMBAGA
KEUANGAN INTERNASIONAL, semacam Bank Dunia, IMF, ADB dan keluarganya, serta
Trans/Multi Nasional Korporasi inilah yang sebenarnya harus dibunuh.
Termasuk juga sekelompok kecil manusia yang menguasai kekayaan alam di
permukaan bumi, tanpa pernah berpikir untuk berbagi.

Hutan, Tanah, Air, Kehidupan.

Belajarlah pada sang pohon.

salam dari tepi hutan beton

[080612:21.07]
:: pesan singkat bagi kawans

[ 5.6.08 ]
ubah perilaku
sampah
banjir
polusi udara
air menghitam
darah dan air mata rakyat
:perilaku industri

ijin ditandatangani
tebang kayu
bongkar tanah
lahan mengkritis
satwa terbunuh
:perilaku birokrat

[080605]
:: hari lingkungan hidup dunia