penuh berkabut. racun telah pula menebar hingga pada ujung terakhir kota.
nafas sesak. mata meradang. emosi meluapkan amarah. bukan pada siapa, hanya
pada apa.
negeri dalam belanga krisis. minyak bumi. gas alam. batu bara. emas.
nikel. pasir besi. tembaga. perak. dan berlian. berlayar di lautan, entah
menuju mana. lapisan humus hitam kecoklatan terbalur dengan tanah merah
yang mengeras perlahan. air hujan sapu segala, hingga mengantar di muara
lautan.
ikan berpergian dan enggan pulang. orangutan bermain seolah ceria di balik
jeruji besi di pulau kecil di tengah pulau. bekantan pergi berbelanja di
pusat perbelanjaan yang dulunya menjadi tempat berkainnya. rangkong terus
meneriakkan pekik kemerdekaan. tapi tak ada yang mendengarkannya. semua
telah menjadi tuli. bahkan perlahan menjadi bisu. bergerak perlahan, tanpa
lagi mampu melihat api yang menjilat rumah Tuhan.
pepohonan bertumbangan. rotan hanyut dalam mimpi multi pihak. madu hutan
yang tersisa hanya pada sebuah pabrik jamu. pasak bumi tercerabut tak
berakar. buldozer tua, perlahan ratakan tanah. katanya, sesaat lagi
kesejahteraan akan ditanamkan dari sebatang palem yang kabarnya minyaknya
mampu melumasi dunia.
mata air berhenti menangis. kering sudah jiwa. kulit mengeras dan semakin
keriput. tulang belulang berserakan di pekarangan. jerit lambung
bersenandung irama kerakusan. sebuah kotak besi tinggalkan catatan negeri
yang pernah merdeka.
tanah, air, hutan, kehidupan. pada negeri dalam belanga krisis. diaduk dan
dihisap oleh bank dunia dan amerika serikat. dengan tangan-tangan yang
mengkamuflase dalam berbagai baju. yang teronggok pada sebuah lemari.
orangutan, hak asasi manusia, pluralisme, anti-korupsi, konservasi,
bencana. yang segala telah terbutakan, oleh keping emas yang menyilaukan
aura kehidupan.
[080620]
:: pagi hari pada sebuah ruang hijau muda
