di tepian karang mumus » copyleft 2ØØ4 « timpakul™


profileprofil
My Photo
Name: timpakul
Location: samarinda, kalimantan timur, Indonesia

hidup di sebuah kota kecil di tepian sungai mahakam merupakan hal yang membahagiakan... walau tak lagi banyak pepohonan, rawa dan hutan kota.... saat ini menapaki kehidupan dengan belajar pada alam dan berbagi pada sesama....

articlesartikel
archivearsip
l i n kruang lain
support bydidukung
shoutbox
[ 29.12.07 ]
diam!
diam saja
tak akan ada terjadi apapun
diam saja
tak akan ada yang menimpa
diam saja
tak akan ada gelisah
diam saja
tak akan ada kata-kata
diam saja
diam!

[071229]
:: tanpa kata-kata

[ 24.12.07 ]
aku berada di balik senjata
sebilah pisau aku selipkan di balik punggung ini
tak ingin aku tampakkan pada mereka
semua menuding ke arah wajahku
caci maki sumpah serapah
mereka bersumpah dalam kebenarannya
hingga tak ada lagi kebenaran bagi yang lain
atas nama sebuah zat yang tak terlihat
mereka katakan ayat-ayat yang tak kumengerti lagi
satu bingkai kekerasan hadir dalam tubuhku
mematahkan akal pikiran dan aliran darah ke jantung
bilah pisau yang dingin di balik punggungku
perlahan semakin terasa panas
mereka bukan musuh bagiku
hanya karena mereka mencaciku
mereka bukan lawan bagiku
hanya karena mereka lampiaskan amarahnya
mereka hanya seonggok daging yang diseret oleh sebuah kata
yang tak mungkin akan mereka pahami
mereka hanya aliran darah tanpa nyawa
aku hanya mampu mendinginkan bilah pisau di balik punggungku
agar tak lagi hadir sebuah kekerasan di kehidupan maya ini
aku berada di balik senjata
yang tak akan membunuh mereka
robot yang dikendalikan oleh kekuasaan
dan keserakahan kehidupan

[071224]
:: dalam sebuah ruang pencarian kedamaian

[ 22.12.07 ]
seorang perempuan
seorang anak perempuan
bermain di sebuah pekarangan rumah yang tak berpepohonan
seorang perempuan lain yang lebih besar membawa sebuah piring
berisikan nasi dengan tempe dan tahu disisinya
anak perempuan itu asik memainkan seutas tali yang mengikat di pagar
rumah
sesekali ia menunjuk ke arah awan hitam kelam yang tak jua menurunkan
hujan
ia tak pernah tahu dimana ibu yang melahirkannya saat ini
bisa jadi sang ibu sedang di kantor
atau di sebuah kampung di ujung perbatasan negeri ini
atau malah sang ibu sedang berada para sebuah pertemuan yang penuh dengan
diskusi
ia tak peduli
bukan karena tak ingin peduli
namun ia belum saatnya peduli
hanya sesekali ia memanggil sang ibu
bukan saat ia ingin menebus dahaga
atau pula saat ia terlalu berkeringat dalam tidurnya
ia hanya ingat sang ibu sesekali menemuinya
dengan kesibukan yang entah apakah baginya
anak perempuan itu menyuap nasi berlaukan tempe
senyumnya memberikan sebuah asa
pada sebuah negeri
saat semua sibuk dengan dunianya sendiri

[071222]
:: selintas di ufuk barat

[ 6.12.07 ]
akasia dan sengon
sebatang akasia
berserakan di tepi jalan
di sebelah sebuah rumah makan berbahan kedelai
pada taman hutan nan raya
remah kulit kayunya bertebaran
dedauannya mulai mengering hijau kecoklatan

sebatang sengon
runtuh menimpa aspal yang panas
tak ada angin apalagi hujan
sudah terlalui masa panennya
hukum tetap harus tegak

akasia dan sengon
diintrusi dari negeri benua berbeda
mempercepat perluasan kebun kayu
yang jadikan hilangnya sumber kehidupan
bagi anak negeri yang tak lagi menjadi tuan
pada tanah kelahirannya

[071206]
:: dalam perjalanan menembus taman hutan raya

[ 3.12.07 ]
pada sebuah pondok di tepi sawah
sore hari
mentari sepenggalahan
seorang bapak dan anaknya sedang duduk
pada sebuah pondok di tepi sawah
matanya memandang aliran air yang bergerak perlahan
menenggelamkan padi yang baru sebulan lalu ia tanam
sungai yang tak jauh dari sawah tak mampu lagi menahan laju air
terlalu banyak sungai itu menampung limpasan air
dari sebuah lahan yang dibuka untuk kompleks perumahan mewah
serta lahan yang dikupas untuk diambil emas hitamnya

mentari mulai turun meredup
pada sebuah pondok di tepi sawah
mata kail yang diletakkan tak jauh dari pondok mulai bergetar
tak ada ikan yang tertangkap
sebilah ranting pohon mengikatkan dirinya pada mata kail
air kecoklatan terus mengalir
menuju tempat yang lebih rendah
pematang sawah tak lagi terlihat
padi perlahan menguning tak tersinari mentari

negeri ini negeri agraris
petaninya pernah menjadikan negeri swasembada
tapi itu hanya tinggal catatan masa lalu
perlahan tapi pasti
lahan persawahan berganti menjadi areal tambang
atau berubah menjadi perkebunan kelapa sawit
dan di sekitar kota sawah telah menjadi perumahan mewah
yang menjadi tempat bertemunya mereka yang berduit dengan
seorang perempuan yang hanya hadir di akhir pekan

negeri ini negeri agraris
tapi itu masa lalu
tak lagi ada beras lokal untuk ditanak hari ini
semua berganti dengan beras dari vietnam ataupun thailand
petani tak ada dalam kesejahteraannya
terbelilit dalam lingkaran utang yang tak mampu terbayar
hingga anak-anaknya harus bekerja di sawah
atau menjadi buruh di pabrik kayu
atau malah menjadi pekerja rumah tangga

pada sebuah pondok di tepi sawah
di negeri yang agraris
:sebuah potret kehidupan diantara gelinjang modal

[071203]
:: catatan awal tahun ini yang terlewatkan

[ 1.12.07 ]
79 juta
79 juta
3-5 dolar
ditanam
disiram oleh hujan
dipupuk oleh serasah
dipelihara oleh angin

79 juta
5 juta rupiah setiap petak
tangan serakah membelai
langkah kaki demi sebuah nama
berbuat dari kepentingan tak penting
mengabaikan penghancuran alam

79 juta
pepohonan itu akan menangis
akarnya merintih disela tambang
dedaunnya terbang menyapa kebun sawit
air kuning coklat tersaji di meja makan
keresahan masih harus ada

[071201]
:: gerakan menanam tanpa memelihara