di tepian karang mumus » copyleft 2ØØ4 « timpakul™


profileprofil
My Photo
Name: timpakul
Location: samarinda, kalimantan timur, Indonesia

hidup di sebuah kota kecil di tepian sungai mahakam merupakan hal yang membahagiakan... walau tak lagi banyak pepohonan, rawa dan hutan kota.... saat ini menapaki kehidupan dengan belajar pada alam dan berbagi pada sesama....

articlesartikel
archivearsip
l i n kruang lain
support bydidukung
shoutbox
[ 16.10.07 ]
menu pagi ini
pagi hari
saat mentari masih bersembunyi
di balik awan hitam yang tak jua teteskan hujan
menanak nasi dari beras vietnam
pada sebuah penanak listrik dari taiwan
sekelompok ikan sarden dalam kaleng
menari bersama daging cincang berlabel kornet
tahu berselaput formalin telah diberi bumbu
bersanding dengan tempe berbahan kedelai impor
sebungkus mie instan telah berlabuh di dasar panci
bersama sedikit bawang putih dari malaysia
sesaat lagi lapar kan hilang
sekeping piring dan sendok bertulisan china siap menemani
tak lupa segelas minuman hitam bersoda berlabel negeri utara

sayang ...
:semua hanya fatamorgana di pagi hari
tak ada beras di pagi ini
:sawah telah berganti kebun sawit
tak ada ikan dan daging di pagi ini
:sungai dan padang rumput telah tercemari
tak ada tahu dan tempe di pagi ini
:ladang telah berganti tambang batubara
tak ada mie instan dan bawang putih di pagi ini
:tanah pekarangan telah berganti dengan hypermarket
tak ada piring dan sendok di pagi ini
:lembaran daun pisang pun sukar didapat
tak ada minuman bersoda di pagi ini
:hanya sebutir obat sakit maag yang setia setiap pagi

[071016]
:: diantara kelaparan di belahan bumi

[ 15.10.07 ]
urai keyakinan jiwa
serangkai mawar putih itu baru aku beli kemarin sore
dari seorang penjual bunga di sebuah simpang empat
pada sisi sebuah mal yang berdiri megah di tanah rawa
kuberikan agar kau letakkan di sebuah vas porselen
di tepi tempat tidur kayu yang mulai rapuh
agar wanginya mewarnai mimpi indahmu malam hari

segenggam melati putih itu baru aku petik kemarin sore
dari samping sebuah sekolah tua yang mulai tak berdinding
pada sisi sebuah gedung pemerintah yang berdiri megah di perbukitan
kuberikan agar kau letakkan di sebuah mangkok kaca
di atas lemari kayu yang tak lagi berpintu
agar wanginya menghiasi mimpi indahmu malam hari

sembilan lembar daun pandan itu baru aku lepas dari tangkainya kemarin
sore
dari samping sebuah puskesmas yang didingnya tak lagi putih
pada sisi sebuah pabrik yang mencemari sungai tempat dirimu membersihkan
diri
kuberikan agar kau letakkan pada tanakan nasi sarapan pagi
di atas sebuah piring plastik yang mulai keropos
agar semerbaknya meningkatkan gairah makanmu pagi hari

sebongkah kamboja kecil itu baru aku cabut dari tanahnya kemarin sore
dari samping sebuah perkuburan tanpa batu nisan
pada sisi sebuah kolam yang tak lagi ada ikannya
kuberikan agar kau tanam pada pekarangan rumahmu
di antara rerimbunan pohon buah terakhir di kampung
agar menyebarkan aroma kesejukan di sepanjang harimu

mawar putih
melati putih
daun pandan
kamboja
menyatu dalam mangkok tak bertepi
helai demi helainya kautaburkan
pada sebuah gundukan tanah memerah
yang di dalamnya telah terbaring kaku
sebuah jasad yang tak kan kau kenang
bersama dengan tak terdengarnya genderang perlawanan
berhembus di antara celoteh keyakinan akan sebuah kemenangan
dalam sebuah mimpi panjang akan kemerdekaan sejati
saat rakyat kuasa dalam ruang kehidupannya
aku harus berada dalam kamar hampa
menantikan pengadilan tanpa pembela
sebelum menuju sebuah rumah keabadian
di sisi bintang merah di langit ketujuh

[071015]
:: urai keyakinan jiwa

27th
15 oktober 1980
sepuluh orang berkumpul
berbincang, berdiskusi, berdebat
tentang sebuah nama
forum
kelompok kerja
aliansi
deadlock!
seseorang tersentak
wahana
sebuah kata menarik
sebuah organisasi dilahirkan
berjuang untuk lingkungan hidup
memperluas gagasan perbaikan kondisi alam
mempertahankan sumber kehidupan rakyat

gerakan populis
beranjak menjadi gerakan sosial
kini menjadi dewasa dalam gerakan politik kerakyatan
dalam bingkai lingkungan hidup
menjadi pembela hak rakyat atas sumber kehidupan

langkah sesekali terhenti
begitu banyak kerikil tajam yang menusuk tapak kaki
panasnya mentari semakin menusuk di ubun-ubun pemikiran
penindas rakyat selalu menghalangi gerak tubuh
sesekali tamparan "terorisme" membekas di wajah
tegakkan diri
tetap bangkit dan melawan
pastikan arah pandang
menuju kemerdekaan rakyat sejati
:27 tahun walhi dalam wajah negeri yang selalu lupa

[071015]
:: walhi, terus semangat berjuang

[ 13.10.07 ]
...
langkah kaki
pada sebuah aras
tatap mata
tuju titik nadir
hembus nafas
halau tanya

[071013]
:: ...

[ 12.10.07 ]
ruang
pertarungan baru usai
pergulatan gejolak nafsu
dahaga bergelanyut dalam ingin
membuka ruang putih

air yang tak lagi jernih
mengalir perlahan di sela riam
bau menyekat nafas yang memburu
menyibak ruang biru

hamparan permadani sawit
kikis tanah impian dengan perlahan
tak lagi ada canda satwa kehidupan
menguak ruang hijau

kemenangan bagi jiwa
hanya sesaat dalam putaran waktu
saat mentari mulai pancarkan sinar baru
kembali menghamba pada nafsu

[071012]
:: pertarungan kehidupan di hari fitri