selembar karpet merah terhampar bagi hadirmu hari ini nyanyian perut
lapar sambut datangmu hari ini tarian jerit kesakitan hibur pertemuanmu
di hotel mewah hari ini cengkeraman tangan bersimbah darah masih membekas
di bahu kiri hampa sudah negeri ini tak lagi berpikir tak lagi bernurani
tak lagi sejahtera kilauan emas silaukan mata kelam batubara butakan hati
pekatnya minyak tulikan jiwa kering sudah tanah ini tak lagi ada tana ulen
tak lagi ada simpukng tak lagi ada lembo permadani sawit kau hamparkan
karpet kebun kayu kau gelarkan tanah merah merekah tak berair undangan
suci bagi bencana pagi ini rakyat negeri ini bersimpuh pasrah
lelah jenuh muak pada janji kesejahteraan bagi angan kemakmuran yang
takkan pernah berwujud saat gerbang emas terbuka bagimu dengan karpet
merah terhampar bagi tegap langkah kakimu yang bersimbah darah dan air
mata [070309] :: ruang kuasa modal
lapar sambut datangmu hari ini tarian jerit kesakitan hibur pertemuanmu
di hotel mewah hari ini cengkeraman tangan bersimbah darah masih membekas
di bahu kiri hampa sudah negeri ini tak lagi berpikir tak lagi bernurani
tak lagi sejahtera kilauan emas silaukan mata kelam batubara butakan hati
pekatnya minyak tulikan jiwa kering sudah tanah ini tak lagi ada tana ulen
tak lagi ada simpukng tak lagi ada lembo permadani sawit kau hamparkan
karpet kebun kayu kau gelarkan tanah merah merekah tak berair undangan
suci bagi bencana pagi ini rakyat negeri ini bersimpuh pasrah
lelah jenuh muak pada janji kesejahteraan bagi angan kemakmuran yang
takkan pernah berwujud saat gerbang emas terbuka bagimu dengan karpet
merah terhampar bagi tegap langkah kakimu yang bersimbah darah dan air
mata [070309] :: ruang kuasa modal
