mentarijingga takkan hilang dalam malam
hangatnya sayang masih selimuti jiwa
cahyanya beri pencercahan nurani
:mentarijingga bahagia dalam bersamaku
[060920]
:: 1000 pilihan mentarijingga di persimpangan
hidup di sebuah kota kecil di tepian sungai mahakam merupakan hal yang membahagiakan... walau tak lagi banyak pepohonan, rawa dan hutan kota.... saat ini menapaki kehidupan dengan belajar pada alam dan berbagi pada sesama....
mentarijingga takkan hilang dalam malam
hangatnya sayang masih selimuti jiwa
cahyanya beri pencercahan nurani
:mentarijingga bahagia dalam bersamaku
[060920]
:: 1000 pilihan mentarijingga di persimpangan
[photopress:sunset4.JPG,full,centered]
mentarijingga perlahan kembali di peraduan
memberikan cahya penghabisan hangatkan keinginan
:menuju ufuk kebahagiaan
[060920]
:: mentarijingga di ufuk negeri kaya
mentarijingga tak lagi hangatkan jiwa
kehampaan bergelanyut dalam nafas kehidupan
:berhembuslah.. aku takkan jadi bayangmu
[060913]
::cahya penghabisan mentarijingga
langkah
perlahan
:tak berpaling
menatap
angan
:tak membalik
menuju
masa
:tak terhenti
[060906]
:: saatnya menatap masa
mendaki amarah
ketidaknyamanan
terkurung benci
gelisah
ingin
gejolak jiwa
mendendam
merangkai otak
urai hati
tidak!
[060905]
:: gejolak hati mentarijingga
terlalu banyak tali yang mengikat langkah kaki di negeri ini
bergerak pun tak lagi nyaman
jejak kaki kreativitas harus terbelenggukan
kecerdasan menggumpal di ujung keinginan
kebebasan menjadi setan kecil di hati pejabat negeri
seolah tak lagi pernah membaca sejarah bangsa
yang merdeka bukan karena belas kasihan
dengan cita suci kesejahteraan anak negeri
membaca pun harus dibacakan
menulis jua harus dituliskan
helai baju tak lagi ada
dijual pagi hari ini
tuk sekedar membeli sebongkah ubi kayu pengganjal lambung
kemerdekaan tak untuk memerdekakan
timpakul berdasi berlomba menggeruk kekayan negeri
tak pernah ia tau catatan tua di lubuk pendiri negeri
yang telah dihilangkan vampire bertangan besi masa lalu
penjilat kecil bergelimangan di sela ketiak tikus kapitalis
melumuri batang tubuhnya dengan keringat kemunafikan
berharap dapat terus bertahan hidup di tanah kerontang negeri
tali pengikat disematkan demi sebuah pita kehormatan
membelit anak negeri yang tak henti didera penderitaan
:memilih menyerah pada sistem
[060905]
:: diantara kelelahan memandang negeri
<html><head><title>[#/ timpakul :: celoteh lingkungan hidup yang tak penting] berharap tetesan embun pagi</title></head><body> <p></p><p>tanah ini subur kawan<br />
katanya tongkat kayu jadi tanaman</p>
<p></p><p>air ini segar kawan<br />
katanya lempar kail ikan pun datang</p>
<p></p><p>hutan ini pasar kawan<br />
katanya hypermarket pun tak sebanding</p>
<p></p><p>kehidupan ini menyenangkan kawan<br />
katanya </p>
<p></p><p>tapi<br />
tetesan embun pagi ini tak lagi membasah tanah<br />
katanya tanah subur terakhir berlapiskan lumpur panas hari kemarin</p>
<p></p><p>tetesan embun pagi ini tak lagi bisa diharap<br />
katanya uap air terakhir telah diberikan hari kemarin</p>
<p></p><p>tetesan embun pagi ini tak lagi mengaliri dedaunan<br />
katanya daun terakhir di hutan telah mengering hari kemarin</p>
<p></p><p>tetesan embun pagi ini tak lagi beri kesejukan<br />
katanya tak ada lagi kehidupan di negeri ini</p>
<p></p><p>[060902]<br />
:: <em>menantikan tetesan embun pagi terakhir</em></p>
</body></html>
<html><head><title>[#/ timpakul :: celoteh lingkungan hidup yang tak penting] hari ini di negeri timpakul</title></head><body> <p></p><p>tanah<br />
air<br />
hutan<br />
kehidupan<br />
: tidak untuk kalian</p>
<p></p><p>[060901]<br />
:: <em>catatan kecil di negeri opportunist</em></p>
</body></html>