di tepian karang mumus » copyleft 2ØØ4 « timpakul™


profileprofil
My Photo
Name: timpakul
Location: samarinda, kalimantan timur, Indonesia

hidup di sebuah kota kecil di tepian sungai mahakam merupakan hal yang membahagiakan... walau tak lagi banyak pepohonan, rawa dan hutan kota.... saat ini menapaki kehidupan dengan belajar pada alam dan berbagi pada sesama....

articlesartikel
archivearsip
l i n kruang lain
support bydidukung
shoutbox
[ 29.8.06 ]
[#/ timpakul :: celoteh lingkungan hidup yang tak penting] melampaui ruang keinginan

<html><head><title>[#/ timpakul :: celoteh lingkungan hidup yang tak penting] melampaui ruang keinginan</title></head><body> <p></p><p>ruang keinginan<br />
awali detik kerusakan<br />
bergelut diantara harapan dan impian<br />
bukan sekedar memuaskan dahaga hari ini<br />
kemunafikan bersendawa diantara kekinian<br />
meracuni kehidupan. </p>

<p></p><p>ruang kebutuhan<br />
:batas cakrawala kemanusiaan. </p>

<p></p><p>[060830]<br />
:: <em>saat melampaui ruang keinginan</em></p>

</body></html>

[ 28.8.06 ]
[#/ timpakul :: celoteh lingkungan hidup yang tak penting] kepik kecil di ranting meranti

<html><head><title>[#/ timpakul :: celoteh lingkungan hidup yang tak penting] kepik kecil di ranting meranti</title></head><body> <p></p><p>kepik kecil di ranting meranti<br />
di tepi sehelai daun terakhir kuning kehijauan<br />
diam kaku menghela hari baru<br />
lengking owa belum jua terdengar<br />
hembusan angin pagi tak menggetarkan jiwanya<br />
embun setetes pun tak hadir basahi tanah merah-kuning negeri<br />
cercahan cahya mentarijingga hangatkan kebekuan hati<br />
: tak ada lagi tempat berkehidupan</p>

<p></p><p>[060828]<br />
:: <em>hilangnya negeri jamrud khatulistiwa</em> </p>

</body></html>

[ 27.8.06 ]
[#/ timpakul :: celoteh lingkungan hidup yang tak penting] mentarijingga di ufuk utara

<html><head><title>[#/ timpakul :: celoteh lingkungan hidup yang tak penting] mentarijingga di ufuk utara</title></head><body> <p></p><p>pasir putih tak lagi bersih<br />
tetesan air tanah membasah<br />
jeritan riang cerucuk<br />
macaca menjelajah pagi<br />
:mentarijingga di ufuk utara</p>

<p></p><p>desakan pohon beton<br />
himpitan kuda besi<br />
geliat langkah pekerja<br />
awan pabrik melapis sinar<br />
:mentarijingga di ufuk utara</p>

<p></p><p>bekantan di dinding kaca etalase<br />
hamparan mangrove terakhir<br />
pulau sedimen akan segera hilang<br />
timpakul bercengkerama di tepi pelabuhan<br />
:mentarijingga di ufuk utara</p>

<p></p><p>[060827]<br />
:: <em>mentarijingga di utara borneo</em></p>

</body></html>

[ 21.8.06 ]
langkah

[1]
bentang alam
ruang nurani
:langkah kebersamaan

[2]
percik jiwa
desir hati
:langkah kesucian

[3]
titik perhentian
garis pengharapan
:langkah kebimbangan

[4]
jejak kemarin
bayang impian
:langkah keinginan

[5]
hampa diri
urai cita
:langkah pengharapan

[6]
berhenti ia
dalam keraguan
:tak lagi ada langkah

[060821]
:: /gejolak langkah mentarijingga/

[ 20.8.06 ]
rantai jiwa

langkah terhenti
dalam perjalanan
penghidupan impian
terbelenggu pilihan
:rantai jiwa

[060820]
:: /bagi mentarijingga/

kubur tua

gundukan tanah hitam
di tepi sebuah kebun rotan
ulin berselimut kain kuning terhunuskan
ilalang memenuhi ruang kekosongan

kubur tua ceritakan sejarah kelam negeri
tak ada pekik merdeka di sini
tak ada canda bahagia
tak hadir secercah senyum terakhirnya
kusam tak bernoda

kubur tua ceritakan catatan kumal negeri
penggusuran hari lalu mendera kegelisahan
sawit tak subur menghiasi halaman rumah
gelondongan kayu terkapar di tepi jalan
kelam tak bercahaya

kubur tua
:saksi negeri tak merdeka

[060817]
:: /untuk negeri yang belum merdeka/

[ 7.8.06 ]
masih adakah tuhan

dimanakah ia meletakkan sebuah simbol keagungannya
tak kala semakin banyak puing-puing kemunafikan tersajikan
sebagai hidangan pembuka di pagi hari tak bermentari
tetes darah kehidupan bercampur aroma keangkuhan
menebar dalam denyut tangis kelaparan penghuni bumi
laut tak lagi biru
hitam pekat melarutkan derita batin yang telah tercerabut
lantunan ayat-ayat tuhan telah berganti nyanyian kematian
tanah mengeras berharakan mayat-mayat suci
sungai tak lagi suci
gelombang amarah mengiringi pekatnya awan yang tak lagi hadirkan hujan
pepohonan bertumbangan tergeletak beraurakan kesedihan
bumi ini tak lagi hadirkan senyuman termanis yang pernah ia berikan

masih adakah tuhan
yang menurunkan norma kehidupan
menggemakan sebuah perdamaian
tunjukkan perlawanan terhadap penindasan

masih adakah tuhan
ditengah kekacauan tata suryanya
ibadah hanya menjadi sebuah ritual semu
demi perut yang semakin membuncit

tak lagi mata menyaksikan indahnya surga yang dijanjikan
semakin pekak telinga mendengarkan jerit kesakitan
menantikan janji yang entah kapan akan terwujudkan
sesaat keheningan dirindukan
dalam deraian kepasrahan
kebangkitan kedua tak lagi diperlukan
tak penting nada kehidupan

masih adakah tuhan
:di sebuah dunia tanpa makna hari ini

[060807:09.05]
:: /dalam memandang awal kehancuran/