kemana arah
semua tertutup dinding
kelam
kelabu pun menggantung
langkah tak berjejak
meraba perlahan
cahaya pernah hadir
hanya angan jadi peta
yang mungkin tak membawa
pada pintu harapan
[091114]
:: labirin
hidup di sebuah kota kecil di tepian sungai mahakam merupakan hal yang membahagiakan... walau tak lagi banyak pepohonan, rawa dan hutan kota.... saat ini menapaki kehidupan dengan belajar pada alam dan berbagi pada sesama....
kemana arah
semua tertutup dinding
kelam
kelabu pun menggantung
langkah tak berjejak
meraba perlahan
cahaya pernah hadir
hanya angan jadi peta
yang mungkin tak membawa
pada pintu harapan
[091114]
:: labirin
"Kau kah itu, yang menghadirkan pelangi kala senja mengharap cemas. Lalu
semburatmu perlahan menjawab tanya, karena cinta membebaskan
untukmu-untukku"
"aku kangen, teramat kangen. lumatan bibirmu, ceritamu, keresahanmu dan
semua tentangmu karena aku mencintaimu sangat....."
sangperempuan - 091103
"Kau kah itu, yang menghadirkan pelangi kala senja mengharap cemas.
Lalu semburatmu perlahan menjawab tanya, karena cinta membebaskan
untukmu-untukku"
"aku kangen, teramat kangen. lumatan bibirmu, ceritamu, keresahanmu dan
semua tentangmu karena aku mencintaimu sangat....."
sangperempuan - 091103
lima kali sehari
suara itu memekakkan telinga
tapi aku tak mendengar apa-apa
selain celoteh yang merusakkan gendang telinga
kosong ... sepi ... hanya teriakan tanpa makna
mungkin tuhan tuli
dan tak mampu lagi mendengar kata hati
hingga ayat-ayatnya harus diperdengarkan dari ujung corong rumah ibadah
yang tak lebih baik dibandingkan kaleng rombeng
bisa jadi tuhan mulai budeg
hingga perlu alat pengeras suara agar tuhan bisa mendengar
berharap menjadi syiar berakhir sekedar caci maki
yang tak lebih baik dibandingkan cicit walet di rumah tetangga
tak pernah aku membaca bahwa tuhan telah tuli
masih belum tahu bila memang tuhan tak mau mendengar
jelaga hati pun mampu didengarnya
tak perlu dengan suara yang memekakan labirin telinga
:kecuali bila kau percaya bahwa tuhan memang tuli
[090920]
:: pada corong rumah ibadah yang memekakan telinga
mereka diam
hanya bisa berdiam
bergerak pun tidak
ponton bermuatan penuh batubara mengaliri sungai coklat
riak air mengoyang jamban tua di tepinya
emas hitam kelam potret kehidupan
berikan keping emas pada penguasa
hanya sisakan keping bencana pada mereka
mereka berguman
hanya bisa bergumam
menggeliat pun tidak
ponton berisikan kayu bulat lurus panjang tak lagi terlalu sering dilihat
kabarnya minggu kemarin adalah pohon durian terakhir yang ditebang
bukan lagi meranti ataupun keruing apalagi ulin
pantas saja tak mampu lagi buah disantap
hanya barisan macaranga yang tersisa
bahkan babi pun enggan menjenguk
diam gumam mereka
:: hanya itu yang bisa
[090917]
:: dalam diam gumam